TANAH ITU BERJULUK BUMI DARANANTE


Menjadi seorang pendidik bukanlah hal yang mudah. Mendidik, melatih, memahami, serta mengayomi para peserta didik merupakan hal utama yang harus dilakukan seorang pendidik dalam menjalankan tugas dan fungsi nya sebagai seorang pendidik” 


        Di awal tahun 2019  merupakan tahun pertama ku dalam menjalani profesi sebagai seorang pendidik. Mendedikasikan  diri di salah satu Sekolah Negeri di sudut Bumi Daranante sebutan lain untuk Kabupaten Sanggau, yang mana Kabupaten kami ini berada di bagian Utara Provinsi Kalimantan Barat dengan luas wilayah ± 12.857,70 Km² dengan kepadatan 29 jiwa per Km². Bumi Daranante beriklim tropis dengan rata-rata curahan hujan yang cukup tinggi dan pada umumnya kota ini merupakan daerah dataran tinggi yang berbukit dan rawa-rawa yang dialiri oleh beberapa sungai seperti Sungai Kapuas dan Sungai Sekayam. Selain itu terdapat juga beberapa tempat wisata diantaranya seperti wisata budaya Keraton Istana Surya Negara, wisata alam Air Terjun Pancur Aji, Riam Macam, taman Sabang Merah dan masih banyak lagi yang lainnya.

            Setiap daerah tentunya pasti memiliki tempat wisata andalannya, begitu pula dengan kota yang kerap dikenal dengan sebutan Bumi Daranante ini tempat wisata tersebut dapat berupa taman, air terjun dan lain sebagainya yang dapat menawarkan area bersantai dan melepas penat bagi para pengunjungnya. Sebutan Bumi Daranante sendiri bermula dari legenda daerah setempat. Sanggau sebagai Kota Kabupaten memiliki salah satu objek wisata taman yang diberi nama Taman Sabang Merah. Kenapa diberi nama Sabang Merah? Karena Sabang Merah sendiri merupakan tanamana khas daerah Sanggau dan menjadi salah satu icon kota ini.
        
          Taman Sabang Merah dikelilingi oleh berbagai jenis pepohonan yang menambah kesan asri ketika berkunjung ke tempat ini. Taman yang terdiri dari beberapa lokasi seperti tugu empat suku, tugu ini menggambarkan keberagaman suku yang ada di Kabupaten Sanggau yaitu suku Dayak, suku Melayu, suku Tionghoa dan suku Jawa. Selain tugu empat suku, terdapat pula Taman Komunitas yang kerap kali dijadikan tempat untuk warga bersantai menikmati senja. Taman Sabang Merah Bumi Daranante ini juga memiliki kawasan olahraga yang ramai dikunjungi oleh para pengunjung pada pagi dan sore hari, ruas jalan disekitar Taman Sabang Merah sering digunakan sebagai spot untuk bersepeda dan joging.

        Selain wisata taman Sabang Merah, Pancur Aji juga menjadi sebuah obyek wisata alam kebanggaan kabupaten Sanggau. Pancur Aji terletak di pinggiran teluk sungai Kapuas di bagian hilir atau pesisir barat kota Sanggau, kawasan wisata ini diapit oleh dua buah anak sungai, ada Sungai Monga yang ada di bagian hilir dan Sungai Mawang yang ada di bagian hulu. Wisata  Air Terjun Pancur Aji juga menawarkan sebuah pemandangan air terjun yang masih sangat alami. Udaranya yang masih segar, dinginnya air pegunungan serta suara kicauan burung – burung liar yang bersahutan memecah keheningan alam sehingga menambah kental kesan nuansa asri. Kelestarian flora dan fauna di kawasan air terjun ini juga masih terawat dengan sangat baik. Meski mempunyai ketiggian yang tidak terlalu tinggi, namun air terjun ini tetap dapat memikat para pengunjung dengan pesonanya.

             Sekarang sudah memasuki tahun ketiga, aku mengabdi di sebuah sekolah negeri di sudut Bumi Daranante ini. Jarak tempuh dari rumah menuju Sekolah tempat aku mengabdikan diri sebagai Oemar Bakri ± 35 menit. “Pak Eko” begitulah sapaan akrab siswa di Sekolah menyapaku. Walaupun lama masa pengabdian ini masih terbilang singkat tetapi begitu banyak cerita, pengalaman, pelajaran, serta suka duka yang aku dapatkan selama mengabdikan diri di Sekolah yang aku cintai ini. 

         Pada masa – masa awal aku menjalani rutinitas sebagai seorang pendidik tentu ada banyak pengalaman serta cerita yang didapat dan dirasakan baik itu berupa cerita suka maupun cerita duka, semua aku lalui dengan penuh kesabaran. Kesungguhan hati ingin mendedikasikan diri sebagai seorang insan pendidik itu adalah kunci kesuksesanku dalam menghadapi berbagai macam rintangan, irama dan problematika dalam menjalani profesi sebagai seorang pendidik.

        Kecintaan akan dunia pengabdian ini membuatku selalu bersemangat dalam memberikan pelayanan pendidikan bagi para peserta didik, yang sudah barang tentu memiliki latar belakang yang berbeda – beda baik itu dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik belum lagi ditambah dengan perbedaan latar belakang keyakinan beragama maupun perbedaan tingakat sosial ekonominya. Menjadi seorang pendidik bukanlah hal yang mudah. Mendidik, melatih, memahami, serta mengayomi para peserta didik merupakan hal utama yang harus dilakukan seorang pendidik dalam menjalankan tugas dan peran dalam bidang profesinya. Pendidik harus mampu mengembangkan dan menggali potensi diri dari peserta didik terutama dalam hal yang menyangkut kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik yang dimiliki peserta didik. Sebagai pendidik, Guru tentunya harus bisa meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan perkembangan saat ini, dimana teknologi merupakan acuan dari segala aspek pengetahuan. Pendidik, juga dituntut untuk dapat melatih dan mengembangkan potensi keterampilan dan kemampuan para peserta didik. Tidak hanya itu saja, seorang guru juga harus mampu menjadi orang tua kedua dari peserta didik, Pendidik harus bisa menjadi fasilitator dan motivator bagi siswa dalam belajar dan meningkatkan ilmu pengetahuan mereka.

            Guru berperan sebagai model yang dijadikan contoh oleh para peserta didik, oleh karena itu seorang guru harus memiliki akhlak yang baik dan budi pekerti mulia agar peserta didik lebih menghormati dan menjadikan seorang guru sebagai pedoman dan tauladan. Guru adalah tempat menimba ilmu bagi para peserta didik, sebagai pendidik guru harus membantu perkembangan anak didiknya untuk memahami, dan menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar pada berbagai kesempatan. Kemampuan ini tidak hanya berdasarkan teori-teori yang diperoleh dari bangku pendidikan, melainkan harus dihayati dan disikapi sebagai suatu seni dalam mengajar.

Komentar